blog

Kisah KKN di Desa Penari dan Kekuatan Content Marketing

Belakangan ini kisah horror berjudul KKN di Desa Penari menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. KKN di Desa Penari terinspirasi dari kisah nyata yang dialami oleh sekelompok mahasiswa saat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah kota di wilayah Timur pulau Jawa, kisah ini terjadi pada pertengahan 2009 silam.

Jika diamati, kisah seperti ini bisa menjadi content marketing strategy yang cukup efektif untuk menarik perhatian audiens. Kisah KKN di Desa Penari diunggah pertama kali oleh akun @Simpleman di Twitter, dan dalam waktu singkat cerita ini pun viral dan selalu menghiasi berita terbaru yang di portal berita online.

Kisah ini menceritakan tentang petualangan menyeramkan 6 orang mahasiswa yang namanya disamarkan sebagai Bima, Anton, Ayu, Nur, dan Wahyu ketika melakukan KKN di desa terpencil. Tak disangka pengalaman KKN itu membuat mereka terlibat dalam situsasi yang menyeramkan karena kesalahan yang dilakukan oleh 2 orang di antara mereka, yaitu Bima dan Ayu.

Bima dan Ayu melanggar aturan yang berujung maut. Nuansa horror semakin mencekam ketika perbuatan Bima dan Ayu mengundang sosok Badarawuhi, bangsa jin yang konon menjadi penari cantik di desa misterius tersebut. Cerita KKN di Desa Penari pun disajikan dalam berbagai versi dan menimbulkan perdebatan di kalangan netizen. Tak sedikit yang bahkan rela untuk mencari keberadaan desa yang menjadi lokasi KKN tersebut.

Influencer ternama, Raditya Dika pun terpancing untuk membahas kebenaran kisah ini. Hal serupa juga dilakukan oleh Kisah Tanah Jawa, channel Youtube yang mengusung tentang sejarah mistis pulau Jawa. Tim Kisah Tanah Jawa pernah membahas tentang sosok Badarawuhi dalam acara talkshow di sebuah stasiun televisi.

Terlepas dari viralnya KKN di Desa Penari, tema horor rupanya menjadi contoh konten yang disukai banyak orang. Konten horor dianggap sebagai candu yang membuat audiens ketagihan. Psikolog ternama, Allegra Ringo seperti yang dikutip dari The Atlantic mengatakan bahwa kecanduan konten horor ini terjadi karena proses kimiawi dan biologi dalam otak manusia. Seseorang akan mengalami peningkatan hormon dopamine, yaitu hormon yang menyebabkan eforia saat melihat konten horor.

Glenn Spark, profesor dari Brian Lamb School of Cummunication, Purdue University mengungkapkan bahwa saat seseorang menikmati cerita horor, detak jantung, dan tekanan darah mereka meningkat. Sensasi itu mempengaruhi emosi yang membuat seseorang betah mengkonsumsi konten horor. “Bukannya takut, anda akan teringat betapa gembiranya menonton sehingga anda ingin mengulanginya lagi,” ungkap Spark seperti yang dikutip Tirto.id.

Lantas, mengapa konten seperti ini bisa menyebar secara cepat?

Jawabannya adalah content marketing. Istilah ini mungkin belum banyak dibahas di Indonesia, namun strategi ini pasti dijalankan oleh para kreator konten, seperti blogger, content writer, influencer, bahkan Youtuber dan Selebgram. Content marketing bermanfaat untuk meningkatkan brang awareness suatu produk atau jasa.

Apa Itu Content Marketing?

Content marketing adalah strategi pemasaran melalui penyajian konten yang bernilai informatif dan disesuaikan dengan pencarian audiens. Strategi ini membuat pemilik usaha dapat memetakan target pasarnya secara jelas dan terukur. Content marketing termasuk dalam metode digital marketing yang bertujuan untuk membangun loyalitas konsumen terhadap suatu brand sehingga mendorong penjualan produk atau jasa.

Dalam bahasa sederhana, konsep ini mengharuskan pelaku usaha menarik konsumen di internet melalui konten menarik yang disajikan secara rutin. Kriteria konten yang menarik antara lain memiliki nilai informasi yang berguna dan menghibur audiens. Namun, content marketing harus dijalankan secara rutin dan terus menerus.

Fungsi Content Marketing

Berbeda dari konsep iklan konvensional, content marketing tidak mengharuskan pelaku usaha menyewa tempa promosi di media milik orang lain. Anda hanya dituntut untuk membangun kanal media sendiri untuk memikat konsumen. Saat ini, konsumen cenderung melakukan riset melalui mesin pencarian Google sebelum memutuskan membeli sebuah produk atau jasa.

Apa yang audiens cari di internet? Jawabannya adalah konten. Audiens lebih betah mengunjungi situs web yang menyajikan konten menarik daripada mencari produk atau jasa secara langsung. Audiens gemar melihat ulasan suatu produk dan bahkan membagikan ulasan tersebut jika dianggap menarik dan bermanfaat.

Contohlah kisah KKN di Desa Penari. Konten itu menggugah rasa penasaran seseorang, sehingga audiens tak segan untuk membagikan kisah ini kepada audiens lainnya. Konten yang baik lebih dipahami melalui cerita bertutur. Membangun konten dapat memikat pembeli potensial kepada kanal dan media yang menyajikan bisnis anda.

Konten yang viral berguna untuk mengarahkan traffic natural ke website anda. Konten yang baik akan terlihat positif di mesin pencarian Google, sehingga akan direkomendasikan lebih intensif oleh audiens. Hal ini bermanfaat dalam membangun interaksi dengan pelanggan yang akan membawa leads baru. Pertanyaannya, bagimana cara membuat konten yang berpotensi viral?

Menyajikan Konten Yang Berpotensi Viral

Konten yang viral adalah yang sering dibagikan (share) oleh orang lain ke media sosial. Ada 6 elemen yang membuat konten menjadi viral, antara lain :

–           Social Currency (Mata Uang Sosial)

Langsung saja kami berikan contoh, misalnya ada seorang anak pejabat bernama si A, kaya raya, berwajah tampan, namun hidup sederhana, menjalankan bisnis kecil-kecilan tanpa bantuan orangtua. Kisah hidup si A tentunya akan mengundang rasa kagum dan bangga bagi audiens yang membacanya.

Si A akan menjadi teladan bagi banyak orang. Setelah itu mulai bermunculan respon positif tentang kehidupan si A yang sederhana walaupun dia anak orang kaya. Content yang mengandung kebanggaan seperti ini lah yang termasuk dalam kategori mata uang sosial.

–           Trigger (Pemicu)

Sesuatu yang viral pasti memiliki faktor pemicu. Konten yang memiliki faktor pemicu akan menyebar cepat karena mudah diingat, membuat penasaran, dan berbeda dari konten yang lain.

Jika anda menemukan hal menarik dan berpotensi menjadi konten anda, rangkumlah materi dan sajikan dalam penyampaian yang mudah diingat, namun berbeda dari yang lain.

–           Emotion (Emosi)

Konten yang viral pasti akan menggugah emosi seseorang. Karena menyentuh perasaan, secara suka rela audiens akan menyebarkan konten tersebut sehingga menjadi viral. Orang akan melihat dan membagikan konten anda jika merasa kagum, lucu, terhibur, dan bahagia. Content berupa cerita horor pun sering dibagikan karena membuat audiens menikmati konten bertema menyeramkan.

–           Public (Umum)

Konten yang memuat hal umum dan lumrah juga bisa menjadi viral. Konten seperti ini biasanya memuat sesuatu yang terjadi pada saat itu juga. Misalnya sidang sengketa pilpres 2019 yang bahkan masih relevan sampai hari ini.

Namun, untuk menghadirkan traffic yang tinggi, content yang anda buat harus memiliki sudut pandang yang berbeda dari yang lain. Misalnya saat membahas sengketa pilpres, anda menyajikan sudut pandang dari pihak golput (golongan putih) yang justru tidak mendukung siapa-siapa.

–           Practical Value (Nilai Praktis)

Nilai praktis yang dimaksud adalah yang bisa langsung dipraktikkan oleh audiens. Biasanya yang berisi turorial membuat sesuatu. Misalnya “cara mudah membuat kue”, atau “cara membuat kopi espresso tanpa mesin”.

Konten semacam ini berpotensi viral karena mengundang keingintahuan audiens dan bisa langsung dipraktikkan.

–           Story (Cerita)

Banyak teknik yang digunakan para pelaku digital marketing dalam menyajikan konten. Satu di antaranya melalui story atau cerita. Biasanya mereka menggunakan teknik bertutur yang runut, sehingga membuat audiens menikmati alur yang disajikan..

Teknik bertutur ini akan memancing audiens berinteraksi dengan sang pembuat konten. Mereka akan merasa seperti menjadi bagian dari story tersebut.

Gunakan Keywords Yarng Volume Pencariannya Tinggi

Sebelum anda membuat konten, ada baiknya anda menentukan kata kunci. Pilihlah kata kunci yang memiliki volume pencarian tertinggi. Jadi, setelah anda menentukan topik, masukkanlah topik tersebut pada tools Google Keyword Planner.

Anda bisa menemukan kombinasi kata yang volumenya paling besar. Misalnya anda membuat artikel yang berisi tentang digital marketing, Google Keyword Planner akan memberikan sejumlah keyword yang tepat untuk tema tersebut. Setelah itu, gunakanlah kata kunci tersebut pada artikel anda.

Buatlah Konten Yang SEO Friendly

Bagi anda yang belum mengenal SEO (Search Engine Optimization), sebaiknya mempelajarinya terlebih dahulu sebelum mempublikasi konten di website anda. SEO dapat diartikan sebagai usaha untuk mengoptimalkan mesin pencarian untuk menemukan sebuah situs atau konten.

Dalam istilah sederhana, SEO bisa diartikan sebagai upaya memanipulasi Google untuk memunculkan konten anda melalui keyword yang anda gunakan.

Namun, ada sejumlah persyaratan yang harus diikuti dalam membuat konten yang ramah SEO. Jangan melakukan optimasi berlebihan karena Google akan menggap konten anda sebagai spam. Buatlah artikel senatural mungkin, agar pengunjung situs anda merasa nyaman melihat konten yang anda sajikan.

Masalah yang kerap muncul dalam membuat konten adalah optimasi berlebihan. Pembuat konten terlalu berharap pada keyword, sehingga memasukkan banyak kata kunci dalam artikel mereka. Akibatnya, artikel yang mereka buat tidak nyaman dibaca dan terkesan dipaksakan.

Akibatnya fatal. Usaha anda untuk meningkatkan pengunjung ke situs anda akan sia-sia. Pengunjung mungkin akan melihat konten anda, tapi hanya sekadar mampir, dan mengangap konten anda tidak menarik.

 

Sumber: Tirto.id, Mitologimedia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *