Pak Habibie
blog

Meneladani Pak Habibie, Sang Teknokrat Nasional Bapak Pesawat Indonesia

Duka mendalam dirasakan bangsa Indonesia, satu di antara putera terbaik bangsa, Bacharudin Jusuf (B.J) Habibie telah berpulang menghadap sang khalik. Kabar duka ini terjadi pada Rabu (11/9) kemarin. Sang “Bapak Pesawat” menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 18.05 WIB di RPSAD Gatot Subroto, Jakarta.

Banyak jasa yang telah dihadiahi teknokrat Indonesia ini kepada bangsa. Antara lain pembangunan Industri Pesawat Terbang Nusantara yang kini dikenal sebagai PT. Dirgantara Indonesia. Semasa hidup, beliau juga berjasa dalam pengembangan teknologi di Indonesia. Habibie lahir di Parepare pada 25 Juni 1933 dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspawardjoyo.

Seperti yang dikutip dari Historia, Habibie sudah menggilai buku sejak kecil. Sebagai kutubuku, Habibie bahkan jarang bermain dengan anak-anak sebayanya. Selain menggemari ilmu pengetahuan, Habibie juga dikenal sebagai sosok yang religious. Hal ini terlihat dari keahliannya membaca Al-Quran. Habibie kecil tergolong introvert, terlebih sejak sang ayah wafat saat usia Habibie baru 14 tahun.

Minatnya terhadap pesawat terbang sudah terlihat sejak beliau bersekolah di SMAK Dago Bandung, Jawa Barat. Setelah lulus, Habibie muda pun melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1954. Saat berkuliah dia mulai menggemari aeromodelling. Sayangnya, pendidikan di ITB hanya dijalaninya selama enam bulan lantaran ingin berkuliah ke luar negeri bersama kawannya, Kenkie Laheru.

Segala persiapan dilakukan Habibie muda untuk dapat berkuliah di luar negeri, hingga akhirnya dia mengajukan visa pelajar ke Kementerian Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan di Jakarta. Habibie pun berhasil masuk ke Technische Hochschule Aachen University untuk mempelajari ilmu aeronautika. Ia berkuliah lewat jalur membeli devisa pemerintah dari uang peninggalan mendiang ayahnya.

Alasan utama nya menggeluti ilmu aeronautika adalah ingin mendalami teknologi pesawat buatan Jerman yang dikaguminya. Sejak remaja Habibie jatuh hati pada pesawat tempur Jerman produksi era Perang Dunia II, Masserschmitt 109 buatan teknokrat Jerman Willy Masserchsmitt. Ia mejadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang kuliah menggunakan biaya sendiri, bukan beasiswa sebagaimana mahasiswa lainnya yang berkuliah ke luar negeri.

Habibie pun menyelesaikan kuliahnya sampai ke jenjang doctoral. Untuk membiaya hidup, Habibie menjadi tangan kanan Hans Ebner, seorang teknokrat di Lehrsthul und Institut für Leichtbau, dan bekerja paruh waktu sebagai penasihat perusahaan kereta api Waggonfabrik Talbot. Habibie menerima gelar Doktoingenieur pada 1965.

Karirnya pun berlanjut setelah ditunjuk sebagai Wakil Presiden Direktur Teknik di pabrik pesawat Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) di Hambur. Pada tahun 1973 sebuah panggilan pulang diterima Habibie dari kakak iparnya, Brigjen Subono Mantofani. Saat itu, Presiden RI, Soeharto mendengar kejeniusan Habibie di Jerman dan ingin membawa kecemerlangan Habibie untuk membangun negeri.

Saat pulang ke Indonesia, Habibie diminta oleh Soeharto untuk mengembangkan Industri Pesawat Terbang Nusantara.  Habibie pun mulai merancang pesawat. Satu di antara pesawat buatannya adalah N250 Gatotkaca. Sampai pada suatu saat Soehrto mengangkat Habibie menjadi Menteri Riset dan Teknologi.

Pencetus Teknologi Komunikasi

Selain ahli aeronautika, Habibie merupakan sosok penting dalam sejarah kemunculan teknologi Global System for Mobile Communication (GSM) di Indonesia, yang digunakan oleh telepon selular hingga saat ini. Habibie juga terlibat dalam berdirinya Telkomsel di awal tahun 1990-an.

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.  Keluarga besar Telkomsel turut berduka cita yang sedalam-dalamnya  dan merasakan kehilangan yang besar atas kepergian almarhum. Bapak Habibie merupakan sosok yang penting bagi kami, beliau memiliki hubungan sejarah erat dalam proses beroperasinya teknologi selular  GSM di Indonesia serta beroperasinya layanan Telkomsel pertama kali di Pulau Batam,” ujar Direktur Utama Telkomsel, Emma Sri Martini seperti yang dikutip dari Tribunnews.

Pada tanggal 14 Juli 1993 Habibie menyetujui penerapan GSM sebagai standar teknologi seluler Indonesia. Langkah ini menginisiasi perpindahan teknologi analog dalam pengembangan teknologi selulur ke teknologi digital di Indonesia. Pada tanggan 2 September 1994, Habibie meresmikan pengoperasian Telkomsel GSM di Pulau Batam.

Saat itu dia melakukan uji coba teknologi GSM Telkomsel perdana dari Batam ke Jakarta dan London. Sejak momen itu, Telkomsel GSM dikembangkan menjadi operator seluler. Pada tanggal 26 Mei 1995, lahirlah PT Telekomunikasi Selular.

Tak hanya itu, Habibie juga menjadi  sosok dibalik kelahiran Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan Habibie berperan besar dalam transformasi industri tanah air. Seperti yang dikutip dari CNNIndonesia.com, Habibie telah memberikan ribuan beasiswa demi kemajuan sumber daya manusia (SDM) di Bidang Iptek.

“Filosofi dan cita-cita Pak Habibie akan menjadi semangat bagi kami di BPPT untuk melakukan lompatan teknologi, mempercepat penguasaan dan pemanfaatan teknologi yang dibutuhkan masyarakat dan industri nasional,” ungkap Hammam.

Tak Ingin Indonesia Tercerai Berai

Semasa hidupnya Habibie sangat peduli dengan pendidikan Indonesia. Pakar Pendidikan Arief Rachman menyebut Habibie berpesan kepada para pendidik di Indonesia agar senantiasa menumbuhkan nilai persatuan bangsa.

“Beliau menitipkan supaya bangsa ini tidak tercerai-berai kamu jangan hanya mengajar tapi mendidik, didiklah bangsa ini sebaik-baiknya,” kata Arief seperti yang dikutip dari CNNIndonesia.com.

Di masa-masa akhirnya, Habibie juga berpesan untuk jangan melupakan Pancasila sebagai tonggak kehidupan bangsa Indonesia. “Jangan lupakan Pancasila, ilmu sebagai tonggak bangsa. Itu yang disampaikan Pak Habibie ke saya,” jelas Arief.

Habibie di Mata Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan belasungkawa atas kepergian B.J. Habibie. Di mata Jokowi, Habibie adalah seorang negararan dan ilmuan sejati. “Beliau adalah seorang negarawan sejati, seorang inspirator, seorang ilmuwan yang meyakini bahwa tanpa cinta kecerdasan itu berbahaya, ilmu pengetahuan, iman, dan takwa harus bersatu,” ujar Jokowi saat menghadiri prosesi pemakaman Habibie seperti yang dikutip dari CNNIndonesia.com.

Jokowi menilai Habibie mampu memberi perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. Pak Habibie, kata Jokowi mampu berfikir tentang masa depan bangsa Indonesia. “Almarhum sudah bekerja dan berpikir untuk Indonesia 50 tahun bahkan 100 tahun ke depan, untuk Indonesia bisa lepas landas menjadi Indonesia maju,” tutur Jokowi.

Habibie sebelumnya dirawat di ruang Cerebro Intensive Care Unit (CICU) Paviliun Kartika RSPAD sejak 1 September 2019. Ketua Tim Dokter Kepresidenan (TDK) Prof. dr. Azis Rani melalui keterangan resmi pada Senin (9/9) menyebutkan Habibie ditangani tim dokter spesialis dengan berbagai bidang keahlian, seperti jantung, penyakit dalam, dan ginjal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *